Kamis, 02 Oktober 2014

Tips Beli Rumah Bagi Pekerja Berpenghasilan Tak Tetap


Umumnya, pekerja lepas ataupun pengusaha memiliki penghasilan tidak tetap. Jika saat ini mendapatkan Rp10 juta, bisa jadi pemasukan pada bulan berikutnya malah menurun hingga setengahnya. Pemasukan yang selalu berubah akhirnya menimbulkan kegelisahan, mungkinkah membeli rumah dengan situasi seperti ini?

Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Sutikno mengatakan, para pekerja lepas sangat mungkin merencanakan pembelian rumah. Asalkan mereka mampu mengelola keuangan secara cermat. Yakni selalu menyeimbangkan pendapatan dan pengeluaran.

“Pekerja yang penghasilannya naik turun terkadang cepat kalap kalau sewaktu-waktu mendapatkan komisi besar,” kata Mike kepada Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia, Selasa, 2 September 2014. “Sikap semacam ini bisa berbahaya bagi kesehatan keuangan."
Beli Rumah Murah Itu Untung atau RugiBeli Rumah Murah Itu Untung atau Rugi


Langkah pertama yang perlu dilakukan agar keinginan memiliki rumah bisa terwujud, yaitu dengan mengetahui jumlah pengeluaran bulanan Anda. Katakanlah sekitar Rp3 juta per bulan, kemudian hitung pendapatan tahunan Anda. Caranya dengan melihat jejak rekening atau rekam pendapatan selama dua tahun kebelakang. Catatan itu akan menggambarkan berapa kira-kira penghasilan bulanan Anda.

Setelah melakukan kalkulasi, ternyata pendapatan tahunan Anda sekitar Rp48 juta, selanjutnya bagi total penghasilan itu dengan 12 bulan. Sehingga Anda akan menemukan asumsi pendapatan bulanan sekitar Rp4 juta. “Usahakan pengeluaran bulanan tak lebih dari Rp4 juta,” kata dia. “Kalau lebih, Anda harus menekan konsumsi atau meningkatkan pendapatan.”

Dari asumsi pendapatan bulanan itu, hanya 75 persen yang boleh untuk keperluan konsumsi. Sisanya harus Anda tabung sebagai dana antisipasi jika pada bulan tertentu tak memperoleh penghasilan. “Uang cicilan rumah dan biaya-biaya lain bisa diambil dari alokasi yang 75 persen tadi,” kata dia.

Sementara menurut perencana keuangan dari Zeus Consulting, Farah Dini, selain menghitung total pendapatan dan pengeluaran, Anda juga perlu menyiapkan dana darurat. Guna menjadi jaring pengaman jika dalam jangka panjang Anda tak kunjung memperoleh penghasilan. Dana darurat ini jumlahnya sekitar 12 kali pengeluaran bulanan. Anggaran ini bisa Anda peroleh dengan menyisihkan uang kala mendapat penghasilan besar.

“Saat penghasilan menurun, Anda bisa menggunakan dana darurat itu untuk menutupi keperluan sehari-hari,” kata dia. “Tetapi ingat, ketika memiliki penghasilan lebih, kembalikan sejumlah dana yang Anda ambil ke rekening dana darurat tadi.”

Terkait trik menyiapkan dana untuk membeli rumah, Anda bisa melakukan beberapa langkah sederhana. Pertama, pastikan dulu harga rumah yang ingin Anda beli. Upayakan, besar cicilannya tidak melebihi pendapatan rata-rata bulanan Anda. Bagi yang ingin menggunakan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR), persiapkanlah uang muka jauh-jauh hari. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia (BI), jumlah uang muka untuk rumah pertama minimal 30 persen dari harga jual tempat tinggal.

Selanjutnya, sisihkanlah 30 persen dari penghasilan pokok rata-rata bulanan Anda untuk biaya cicilan rumah. Dengan catatan, angka ini merupakan plafon maksimal dari seluruh jenis utang. Artinya termasuk cicilan kendaraan, kartu kredit, maupun utang lainnya.

“Agar cicilan lebih rendah, otomatis anda harus menambah jumlah down payment dari 30 persen menjadi 35 persen atau lebih,” kata dia. “Semakin besar uang muka, maka tambah kecil juga cicilannya.”


ANAK KITA TIDAK HANYA BUTUH MAKANAN YANG BERGIZI SAJA UNTUK BISA HIDUP SEHAT
Sering kali orang tua hanya berfokus untuk memilihkan makanan2 sehat untuk tumbuh kembang putra-putrinya. Memilihkan susu terbaik, sayuran tersegar, ikan yg segar dsb.
Tapi sayangnya banyak orang tua yg tidak tahu bahwa PIKIRAN ANAK juga membutuhkan makanan yg sehat untuk tumbuh kembang moral dan akhlaknya. Dalam ilmu pengetahuan modern di ketahui bahwa di dalam PIKIRAN yg sehat terdapat Tubuh yg sehat - Soul Mind Body Connection -
Tahukah anda apa saja makanan sehat untuk tumbuh kembang pikiran, etika, moral dan akhlak seorang anak ?
1. Pemilihan ucapan dan kata2 yg positif terutama pd saat anak gagal mencoba
2.Pujian yg tulus pada setiap usaha kecil yg berhasil dilakukan anak.
3. Tontonan TV yg mendidik, tdk mengandung unsur kekerasan dan pornografi.
4. Contoh prilaku positif dan teladan dari kedua orang tuanya.
5. Senyuman tulus setiap hari dari orang tuanya.
6. Nada yg lembut dalam berbicara pada anak.
7. Bermain bersama dengan peralatan yg ada di sekitar rumah.
8. Mendongengkan anak menjelang tidur
9. Memilihkan sekolah yg peduli pada PRILAKU MORAL muridnya
10. Memilihkan sekolah yg sistem dan guru2nya ramah anak.
11. Memilihkan mainan yg mengedukasi, tdk mengandung unsur kekerasan.
Jika masih ada lagi makanan sehat bagi perkembangan pikiran dan akhlak anak mari kita berbagi pengalaman d isini....
Jika hari ini kita semua mulai mau melakukannya maka anak kita kelak tidak hanya memiliki tubuh yg sehat, melainkan juga memiliki prilaku moral dan akhlak yg sehat. Sehingga Bangsa Indonesia bisa menjadi Bangsa yang SEHAT.


DARI KOMUNITAS AYAH EDY



KORBAN SISTEM PENDIDIKAN DAN SEKOLAH SALAH KURIKULUM
Sekolah-sekolah di Jepang ternyata lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mendidik etika perilaku dan budipekerti murid-murid sekolah mereka mulai pra sekolah atau TK hingga Sekolah Dasar, selama kurun waktu lebih kurang 2+6 tahun. = 8 tahun.
Hampir setiap hari anak-anak di berikan pelajaran praktek tentang "Mengelola Sampah" **bukan membuang sampah karena disana sampah itu akan selalu di daur ulang untuk bisa di manfaatkan kembali untuk masyarkat atau di jadikan bahan bakar alternatif dan sebagainya.
Di sekolah anak-anak juga dilatih untuk membersihkan kelas, membersihkan toilet sekolah, merapikan ruang kelas, menata sepatu, berkata santun, hadir tepat waktu, berlatih kejujuran dan semua budi pekerti lainnya, juga di latih dasar-dasar life skill seperti memasak, saling membantu, melayani dan tolong menolong serta ramah alam dan lingkungan seperti menjaga keseimbangan ekosistem.
Sehingga seandainya seseorang tidak mau lanjut ke perguruan tinggi karena alasan pribadi mereka, maka merekapun sudah tahu bagaimananya hidup tertib, jujur, bersih, rapih dan beretika moral yang baik dilingkungan masyarakat.
Dan ternyata hasilnya sungguh luar biasa.!
Mungkin bisa dilihat secara sederhana, misalnya saja selokan-selokan di pusat kota, seperti Tokyo hingga di pedesaan terlihat jernih, bersih terawat dan bisa di huni oleh Ikan-ikan KOI tanpa takut TERCEMARI oleh limbah rumah tangga atau pabrik, atau orang yang buang sampah sembarangan ke Got, serta tanpa TAKUT DI CURI oleh orang yang lewat atau masyarakat yang tinggal di sekitarnya. (Bebas Limbah dan Bebas Pencurian)
Bandingkan dengan selokan-selokan yang ada di Ibukota Jakarta atau mungkin juga yang ada di sebagian besar desa-desa di Indonesia.
Jika negara maju seperti Jepang saja justru sekolah-sekolahnya lebih berfokus untuk mengajarkan praktek etika prilaku moral dan budi pekerti anak sejak usia dini lalu mengapa sekolah-sekolah di Indonesia malah sibuk mewajibkan baca tulis hitung bagi siswa-siswa sekolah TK atau SDnya ?
Hingga terlihat sangat jelas bedanya, Coba deh pikirkan sekali lagi dan tanya mengapa?
Jika anda setuju silahkan sebarkan kisah ini pada sebanyak-banyaknya orang tua dan guru yang anda kenal, semoga saja bisa membawa perubahan bagi negeri kita.

DARI KOMUNITAS AYAH EDY



Wafa adalah seorang gadis kecil berumur 7 tahun. Saat ini, dia bersekolah di Albany Rise Primary School, Melbourne, Australia. Seperti anak-anak seusianya, Wafa juga masih didominasi sifat kekanak-kanakan. Namun di balik itu semua, ada yang istimewa pada gadis kecil ini. Dia satu-satunya murid di sekolahnya yang mengenakan jilbab. Padahal Wafa bersekolah di public school, bukan di sekolah Islami.
Gadis kecil ini tak pernah mau melepas jilbabnya meski saat ini tidak tinggal di Indonesia. Tak ada paksaan dari orang tuanya untuk mengenakan jilbab. Meski berada di lingkungan asing, dengan resiko akan ‘diasingkan’ oleh teman-temannya, dia tetap tidak peduli dan kokoh dengan pendiriannya.
Suatu hari, Australia sedang dilanda heatwave. Waktu itu suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Karena kasihan, guru Wafa memintanya untuk membuka jilbab agar tidak terlalu kepanasan. Namun dengan tenang Wafa menjawab, “Its okay, Miss. I’m alright,” Sang guru pun sampai menyampaikan kekaguman atas kegigihan Wafa.
Di kesempatan lain, Wafa ditanya oleh beberapa temannya. “Why do you wear that thing on your head?” Dengan percaya diri sebagai seorang muslim, dia menjawab, “Because I’m muslim,” Sang teman rupanya masih penasaran dan bertanya lagi, “But what you’re wearing that for?” Kembali dengan kepercayaan diri yang tinggi, Wafa menjawab,”Well, because I’m muslim girl and all muslim girls are not allowed to show their hair to other people, besides their own family.” Bisa kita bayangkan betapa takjubnya teman-teman Wafa ketika mendengar jawaban ini.
Entah bagaimana caranya gadis kecil ini memiliki kepercayaan diri dan kebanggaan sebagai seorang muslim. Biasanya anak seusianya sangat takut dianggap berbeda dari teman-temannya. Akan tetapi tidak untuk Wafa. Dia sangat percaya diri dan bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Tempat yang asing bagi dirinya pun semakin menempanya untuk tetap bangga sebagai seorang muslim. Kegigihan Wafa ini rupanya juga diperhatikan oleh guru-gurunya. Dia pun terpilih sebagai student of the week di minggu pertama dia masuk ke sekolah tersebut.
Kisah tentang Wafa yang dikutip dari buku Character Building, karangan Yudha Kurniawan SP dan Ir Tri Puji Hindarsih tersebut sungguh menginspirasi kita bahwa identitas sebagai seorang muslim adalah suatu kebanggaan. Di negeri yang mayoritas non muslim, Wafa mampu menunjukkan kebanggan tersebut. Sungguh ironis jika di negeri yang mayoritas muslim ini, kita justru malu menunjukkan identitas diri kita sebagai seorang muslim. Wafa juga memberi pelajaran pada kita bahwa usia yang masih dini bukanlah halangan untuk menanamkan rasa bangga sebagai seorang muslim kepada anak. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Antara lain:
Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi muslim di dada mereka. Sejak awal, kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang muslim, sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar pada agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan penuh percaya diri. “Isyhadu bi anna muslimun. Saksikan bahwa aku adalah seorang muslim!”
Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitas sebagai seorang muslim, baik yang bersifat fisik, mental, maupun cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam. Bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, melainkan untuk menemukan apa yang sudah dilakukan generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al wala’ wal bara’ sehingga memperkuat percaya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah mereka untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi berpapasan dengan orang non muslim. Kita tidak bersikap arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita sehingga tidak menyingkir karena gemetar.
Semoga kita senantiasa istiqamah dan bangga dengan identitas sebagai seorang muslim. Seperti halnya Wafa dalam kisah di atas. Kebanggaannya sebagai seorang muslim bak sebuah mahkota yang bukan saja meningkatkan derajat di antara kerumunan orang lain, melainkan juga memancarkan cahaya yang membuat potensi dan kemampuannya semakin terlihat.





SEBUAH PENGALAMAN KISAH NYATA YANG DI RANGKUM DALAM KATA-KATA

Seorang ibu datang berkonsultasi pada kami tentang anaknya yg suka memukul, teriak2, bertengkar dengan kakaknya setiap hari, dan segudang prilaku buruk lainnya....
Hanya ada 5 saran dari kami:
1. Hilangkan semua tayangan TV yg merusak di rumah dan ganti dengan aktivitas fisik atau olah raga pada anaknya atau Edu Game (program komputer pendidikan anak)
2. Perbaiki prilaku orang tua dan cara mendidiknya dengan membaca buku-buku kami (37 kebiasaan buruk ortu yg melahirkan prilaku buruk anak dan Ayah Edy menjawab). atau buku2 parenting lainnya. dan praktekkan isinya dengan sabar.
3. Dengarkan CD PARENTING TALKSHOW ayah Edy sesering mungkin dan praktekkan isinya.
4. Praktekan mulai hari ini juga dengan tekun dan sabar setahap demi setahap dan jangan pernah menyerah untuk mencoba dan mecoba lagi, seperti seorang anak balita yg berusaha untuk bisa berjalan.
5. Jika sumber prilaku anak berasal dari sekolahnya yg hanya peduli pada angka2 dan bukannya pada pembentukan prilaku dan akhlak anak maka pindahkanlah anak kita ke sekolah yg peduli moral semisal sekolah alam, atau sekolah PEDULI AKHLAK lainnya disekitar tempat kita tinggal, jika tidak ada sekolah yg perduli moral dan akhlak anak, lebih baik di Home Schoolingkan saja.
Selang 6 bulan sang Ibu kembali menghubungi kami, dan apa katanya:
1. 1 bulan pertama setelah perjuangan berat meniadakan TV dirumah anakanya banyak sekali berubah prilakunya menjadi lebih bisa di kendalikan dan tidak lagi agresif.
2. 3 bulan setelah memperbaiki prilaku diri 37 Kebiasaan buruk mendidik.... sesuai di kedua buku tersebut anaknya mulai bisa di ajak kerjasama dan mau mendengarkan.
3. 4 bulan setelah mendengarkan CD KOMPILASI PARENTING AYAH EDY, suami mulai mau peduli dan sadar untuk ikut serta mendidik anak dan menyadari semua kesalahan selama ini. Anak2pun menjadi jauh lebih baik.
4. Sayangnya dulu saya sering ragu untuk mempraktekkannya, tapi setelah mulai mau mencoba sedikit2 sy menyesal mengapa tidak dari dulu saya mengetahui ini semua dan kenapa gak cepat2 sy praktekan.... bahkan sempat berpikir kenapa hal yg bagus ini kok dulu gak di ajarkan di sekolah ya....
Ah.....akhirnya sy bisa menarik nafas lega.....dan bersyukur 1 keluarga Indonesia sudah berhasil dan berubah.
Semoga akan lebih banyak lagi keluarga2 Indonesia yg berubah menjadi lebih baik sehingga masa depan bangsa ini pun akan menjadi lebih baik.
Aminnnnn ya Allah....10.000x
Let's Make Indonesian Strong from Home !!!!!!
Kalau bukan kita, mau berharap pada siapa lagi ?
Kalau bukan sekarang mau kapan lagi...?

DARI KOMUNITAS AYAH EDY...

MENGINTIP PERBEDAAN SISTEM SEKOLAH DI JEPANG VS DI INDONESIA

Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.
Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi.
Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji.
Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Salam.
Sumber: edukasi.kompasiana.com
Bandingkan dengan SD kita yg masih saja meributkan ANAK-ANAK SD HARUS SUDAH BISA CALISTUNG dan KKM, REMIDIAL, TES dan UAN

Rabu, 16 Juli 2014

Bisnis Kuker euy....

Sejak sblm puasa dah nyebarin sample2 walau gak banyak krn takut gak kehandle wong ngerjain sendiri sepulang kerja.

Alhamdulillah pesanan2nya lumayan melelahkan jg, selesai 28 toples, datang lg 15 toples pesanan, stelah ini tutup order.

Permulaan awal usaha sendiri "aman terkendali" smoga tahun2 berikutnya "padat merayap" Amiiiiiiinnnnnn :-)